Tanggal 21 April kemarin kita sudah merayakan Hari Kartini, hari yang identik dengan feminisme dan pemberdayaan perempuan. Bertahun-tahun yang lalu, Ibu kita Kartini telah memperjuangkan hak-haknya untuk terus belajar dan bahkan membagikan ilmunya kepada perempuan lain di sekelilingnya. Di zaman yang serba modern ini, mungkin memang mayoritas perempuan di Indonesia sudah memiliki akses ke edukasi lebih mudah, namun perjuangan kita masih belum selesai. Masih banyak isu-isu yang patut kita perbaiki seperti kesempatan bekerja yang seharusnya setara dengan laki-laki.

Baru-baru ini, Klei & Clay berkesempatan untuk mewawancarai Trinzi Mulamawitri seorang perempuan Indonesia yang sudah menjadi jurnalis selama 14 tahun. Beliau bisa dibilang adalah salah satu Kartini masa kini, dimana ia bisa menjadi pemimpin sebuah redaksi di tahun 2010. Pemimpin lho, Kleive! Di era yang sudah maju ini, pemimpin perempuan di Indonesia masih bisa dihitung dengan jari, jadi Klei & Clay selalu kagum dengan perempuan yang dapat mendobrak ‘glass ceiling’ seperti mbak Trinzi ini.

Perjalanan mbak Trinzi sebagai seorang feminis dimulai saat beliau menduduki posisi tertinggi di redaksi tersebut di tahun 2010-2017. Dalam pekerjaannya, ia memiliki kesempatan untuk bertemu dengan berbagai remaja perempuan dari berbagai daerah yang membuatnya tersadar bahwa bibit-bibit bangsa ini memiliki kekuatan yang besar untuk mengubah sebuah negara. Namun, masih banyak yang memandang mereka hanya sebelah mata, apalagi ditambah dengan stigma perempuan yang seringkali menjadi penghambat mereka. Contoh stigma yang menghambat mereka seperti, perempuan tidak perlu sekolah terlalu tinggi, perempuan harus selalu santun, dan sebagainya. Melihat hal ini, mbak Trinzi pun mulai belajar secara otodidak dan mencari referensi tentang feminisme. Ia pun tersadar tentang miskonsepsi pemberdayaan perempuan. Menurutnya, kuncinya adalah usaha untuk mengubah mindset orang-orang tentang patriarki.

Nah, definisi feminis kan bisa berbeda-beda, jadi sebaiknya kita menyamakan persepsi dulu nih, Kleive. Menurut mbak Trinzi, “Feminisme adalah tentang keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Keadilan dalam hal akses ekonomi, pendidikan, kesehatan dan banyak lagi. Feminisme juga berarti menerima keberagaman dan berbagai pengalaman unik yang membuat keadilan memiliki konsep yang khas bagi kelompok tertentu. Contoh, pengalaman remaja perempuan di Papua tentu berbeda dibanding yang di Jakarta. Jadi ketika memberikan pendidikan kesehatan reproduksi treatmentnya pun beda. Feminisme juga berarti menerima perbedaan antara lelaki dan perempuan. Bukan malah menyamakan atau dianggap mengistimewakan. Seperti, perbedaan biologis antara perempuan dan laki2 membuat perempuan menghabiskan waktu lebih lama di toilet. Jadi bila sebuah perusahaan membangun jumlah toilet yang sama antara lelaki dan perempuan, apakah itu bisa dibilang adil? Dalam masyarakat patriarki, peraturan kerap dilihat dari sudut pandang lelaki, bukan dari perempuan. Feminisme ingin merombak perspektif ini. Jadi, feminisme disini lebih ke kesetaraan gender dimana hak-hak yang kita miliki seharusnya memiliki hak-hak yang sama dalam hidup tapi tetap mempertimbangkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan.  

BACA JUGA: Aku Harus Menjadi Jelek Agar Tidak Terkena Pelecehan Seksual ‘Lagi’

Di Indonesia sendiri, menurut mbak Trinzi masih banyak sekali yang harus dikerjakan. Contoh yang paling krusial adalah undang-undang pencegahan kekerasan seksual yang masih terkatung-katung setelah bertahun-tahun. Bahkan sampai sekarang, masih banyak yang memandang kasus pelecehan seksual sebagai kesalahan korban. Perkawinan anak juga masih banyak ditemui di Indonesia dan istri masih belum dipandang memiliki posisi setara dengan suami. Buktinya dalam UU Perkawinan tahun 1974 pasal 4, bila istri tidak mampu memiliki keturunan, maka suami berhak menikah lagi. Melihat hal ini, kita sebagai perempuan harus memperjuangkan hak-hak kita, yakan, Kleive?

Masih dalam semangat Hari Kartini, Klei & Clay juga menanyakan makna dibalik hari Kartini untuk Mbak Trinzi. Menurutnya, “Kartini adalah sosok yang berhasil menciptakan akses pendidikan lebih luas kepada perempuan lain di Indonesia. Pemikiran Kartini di tahun 1901 sangat jauh melampaui zamannya. Terutama dalam hal kemerdekaan perempuan. Hari Kartini buat saya menjadi refleksi,

“Sudahkah saya sebagai perempuan melakukan hal-hal yang telah diperjuangkan Kartini?”

Ketika ditanya siapa yang menjadi sebuah sosok yang dijadikan sebagai Kartini masa kini oleh mbak Trinzi, beliau menjawab: Karlina Supelli, seorang filsuf perempuan yang turun ke jalanan di tahun 1998 untuk memperjuangkan harga susu yang naik akibat krisis moneter. Pemikirannya tentang kebangsaan dan perjuangan perempuan sangat mencerahkan.

Akhir kata, Mbak Trinzi ingin berpesan kepada perempuan penerus bangsa untuk “Berani bersuara bahwa perempuan merupakan partner sejajar dengan lelaki. Perempuan tidak perlu dimuliakan hanya butuh dimanusiakan.”

Bagaimana, Kleive? Diskusi yuk di kolom komentar, menurutmu, bagaimana kita bisa meneruskan perjuangan ibu Kartini di masa kini?

Much love,
Klei & Clay

Thanks to: @trinzi

#Kartini #WomanEmpowerment #KleiandClay #Localbrand